Kamis, 18 Februari 2010

Formaldehida

1.  Monografi
     Formaldehida berbentuk gas, berguna sebagai pengawet dan lebih mudah  disimpan dalam bentuk larutan dalam air atau biasa disebut formalin. Formalin merupakan nama dagang dari formaldehida yang mengandung kira-kira 37% gas formaldehida dalam air, biasanya ditambah metanol 10-15% sebagai stabilisator.
 
Rumus molekul   :  HCHO
                                     O
                                     ║
Rumus bangun    :  H  —  C  —  H
                    
Bobot molekul        :  30,03
Pemerian            :  Merupakan larutan tidak berwarna, berbau tajam pada keadaan dingin dan dalam udara terbuka dapat menjadi keruh karena membentuk endapan trioksimetilena.
Kelarutan           :  Dapat bercampur dengan air, alkohol dan aseton.
Titik didih           :  - 21ยบ C
PH                     :  2,8 –  4,0
Bobot Jenis        :  1,081 –  1,085
Rotasi Jenis        :  0,815
Identifikasi          :  
Encerkan 1 ml dengan air secukupnya  hingga 1000,0 ml. pada 10 ml tambahkan 2 ml larutan segar fenilhidrazin hidroklorida P 1% b/v, 1 ml larutan kalium heksasianoferat (III) P dan 5 ml asam  klorida P, terjadi warna merah terang. Uapkan diatas tangas air, tertinggal amorf putih.   
     Keasaman-kebasaan    :  Encerkan 1 ml dengan 10 ml air bebas karbondioksida P, titrasi dengan natrium 
                                            hidroksida 0,1 N, menggunakan indikator larutan biru bromtimol P, diperlukan 
                                            tidak lebih dari 5 ml.
Nama lain    :    - Formalin
                        - formol
                        - Morbicid
                        - Oxomethane
                        - Oxymethylene
                        - Methylene oxide
                        - Formic aldehyde
                        - Methyl aldehyde

    Di pasaran formalin dapat juga diperoleh dalam bentuk sudah diencerkan, yaitu dengan kadar formaldehida 30%, 20% dan 10%. Selain dalam bentuk tablet yang masing-masing mempunyai berat 5 gram.
   
    Bila formalin menguap, sebagian formaldehida akan hilang tetapi sebagian besar akan berubah menjadi trioksimetilena. Formalin merupakan zat reduktor yang kuat terutama dengan adanya akali. Dalam udara formalin pelan-pelan akan teroksidasi menjadi asam formiat (HCOOH).

2.  Kegunaan
     Formalin digunakan untuk fungisida, germisida dan desinfektan. Dibidang industri, formalin digunakan dalam produksi sutra buatan, bahan, karet, fenol, urea, tiourea, bahan celup kain, tinta, selulosa ester dan molekul organik lainnya. Formalin juga digunakan oleh industri kertas, fotografi dan furnitur.
     Formalin dengan kadar 37% digunakan untuk mengawetkan mayat karena sifatnya yang dapat mengeraskan jaringan tubuh, serta digunakan untuk bahan biologi dan patologi lainnya. Dalam bentuk gas, formalin sering digunakan oleh pedagang tekstil untuk menghindari jamur dan ngengat pada kain diberbagai pusat perbelanjaan.
      Formalin dapat pula digunakan untuk bahan baku melamin. Melamin merupakan suatu polimer, yaitu hasil persenyawaan kimia (polimerisasi) antara formaldehida dan fenol. Permasalahannya, dalam polimerisasi yang kurang sempurna dapat terjadi residu karena sisa monomer formaldehida atau fenol yang tidak bersenyawa sehingga terjebak di dalam materi melamin. Sisa monomer formaldehida inilah yang berbahaya bagi kesehatan apabila masuk dalam tubuh manusia.

3.  Efek Tosik   
     Uap formaldehida dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung dan saluran pernapasan bagian atas serta dapat menyebabkan batuk, dispagia, spasme pada laring, bronkhitis dan radang paru-paru, dermatitis pada kulit. Pada saluran pencernaan, formadehida menyebabkan iritasi pada lapisan mukosa. Keracunan formaldehida juga menyebabkan muntah, hematemesis, anuria, diare dengan disertai gumpalan darah, asidosis, pusing, konvulsi dan menyebabkan kegagalan sirkulasi.    
     Pada saluran pernapasan, formadehida kadar 0,25-0,45 ppm menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan. Kadar formadelhida yang lebih tinggi, antara 0,4 ppm dan 0,8 ppm menyebabkan batuk, sesak di dada dan sulit bernapas. Pada kadar 4 ppm, formaldehida menyebabkan iritasi di paru-paru den tenggorokan sehingga menimbulkan bronkhitis dan laringitis dan pernapasan rusak pada kadar di atas 10 ppm dan 50 ppm karena kerusakkan paru-paru yang serius. Kontak langsung dengan cairan dapat menimbulkan iritasi, gatal, terbakar dan kering pada kulit. Pada kadar 0,4 ppm jika terkena mata akan menyebabkan perih dan iritasi.
      Suatu bahan kimia dikatakan beracun bila berada di atas ambang batas yang diperbolehkan. American Conference of Governmental and Industrial Hygienists (ACGIH) menetapkan ambang batas (Threshold Limit Value/TLV) untuk formaldehida adalah 0,4 ppm. Sementara National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) merekomendasikan paparan limit untuk para pekerja adalah 0,016 ppm selama periode 8 jam, sedangkan untuk 15 menit 0,1 ppm.
     Dalam International Programme on Chemical Safety (IPCS) disebutkan bahwa batas toleransi formaldehida yang dapat diterima tubuh dalam bentuk air minum adalah 0,1 mg per liter atau dalam satu hari asupan yang dibolehkan adalah 0,2 mg.
     Sementara formalin yang boleh masuk ke tubuh dalam bentuk makanan untuk orang dewasa adalah 1,5 mg hingga 14 mg per hari. Formalin dalam tubuh akan bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran pencernaan dan saluran pernapasan. Bahan ini secara cepat teroksidasi membentuk asam format yang menghasilkan CO2 dan air, terutama di hati dan sel darah merah.

4. Bahaya jangka pendek
    Bila terhirup
  • Iritasi pada hidung dan tenggorokkan, gangguan pernapasan ,  rasa terbakar pada hidung dan tenggorokkan serta batuk-batuk.
  • Kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernapasanseperti radang paru, pembengkakkan paru.
  • Tenda-tanda lainnya meliputi bersin, radang tekak, radang tenggorokkan, sakit dada yang berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual dan muntah.
  • Pada kosentrasi yang tinggi dapat menyebabkan kematian.
    Bila terkena kulit
  • Apabila terkena kulit maka akan menimbulkan perubahan warna, yakni kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar.
     Bila terkena mata
  • Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gatal-gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air mata.
  • Bila konsentrasi tinggi maka dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa mata.
      Bila tertelan
  • Apabila tertelan maka mulut, tenggorokkan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi, kejang dan tidak sadar hingga koma.
  • Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal.
5.   Bahaya jangka panjang
      Bila terhirup
  • Apabila terhirup dalam jangka lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernapasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru.
  • Efek neuropsikologis meliputi  gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi dan daya ingat berkurang.
  • Gangguan haid dan kemandulan pada perempuan
  • Kanker pada hidung, rongga hidung, mulut, tenggorokkan, paru dan otak.
      Bila terkena kulit
  • Apabila terkena kulit, kulit terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan  kulit dan kepekaan pada kulit dan terjadi radang kulit yang menimbulkan gelembung.
      Bila terkena mata
  • Apabila terkena mata, terjadi radang selaput mata.
      Bila tertelan
  • Apabila tertelan akan menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokkan, penurunan suhu badan da rasa gatal di dada.                    
6. Tindakan Pencegahan
    Terhirup
  • Untuk mencegah tidak terhirup gunakan alat pelindung pernafasan seperti masker, kain atau alat lainnya yang dapat mencegah kemungkinan masuknya formalin ke dalam hidung atau mulut.
    Terkena mata
  • Gunakan pelindung mata atau kacamata pengaman yang tahan terhadap percikan. Serta sediakan kran air untuk mencuci mata di tempat kerja yang berguna apabila terjadi keadaan darurat.
    Terkena kulit
  • Gunakan pakaian pelindung bahan kimia yang cocok dan gunakan sarung tangan yang tahan bahan kimia.
    Tertelan
  • Hindari makan, minum dan merokok selama bekerja serta cuci tangan sebelum makan.

7. Tindakan Pertolongan Pertama
     Bila terhirup
  • Jika aman memasuki daerah paparan, pindahkan penderita ketempat yang aman. Bila perlu, gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis untuk melakukan pernapasan buatan. Segera hubungi dokter.
    Bila terkena kulit
  • Lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkena formalin. Cuci kulit selama 15-20 menit dengan sabun atau diterjen lunak dan air yang banyakdan dipastikan tidak ada bahan lagi yang tersisa di kulit. Pada bagian yang terbakar, lindungi luka dengan pakaian yang kering, steril dan longgar. Segera hubungi dokter.
    Bila terkena mata
  • Bilas mata dengan air mengalir yang cukup banyak sambil mata dikedip-kedipkan. Pastikan tidak ada lagi formalin di mata. Aliri mata dengan larutan garam dapur 0,9% secara terus menerus sampai penderita siap dibawa kerumah sakit.
    Bila tertelan
  • Segera hubungi dokter atau bawa segera kerumah sakit.

Ekstraksi

       Ekstraksi adalah penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dan menggunakan pelarut yang dipilih dimana zat yang diinginkan larut. Bahan mentah obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau hewan tidak perlu diproses lebih lanjut kecuali dikumpulkan atau dikeringkan. Tiap-tiap bahan mentah obat disebut ekstrak, tidak mengandung hanya satu unsur saja tetapi berbagai macam unsur, tergantung pada obat yang digunakan dan kondisi dari ekstraksi (Ansel, 1989).
       Ekstrak adalah sedian pekat yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan (Anonim, 1995).
        Kriteria cairan penyari haruslah memenuhi syarat antara lain murah dan mudah didapat, stabil secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak menguap dan mudah terbakar, selektif yaitu menarik zat yang berkhasiat (Anonim, 1995).
         Metode dasar penyarian yang dapat digunakan adalah infundasi, maserasi, perkolasi, penyarian dengan Soxhlet. Pemilihan terhadap metode tersebut disesuaikan dengan kepentingan dalam memperoleh sari yang baik. Pemilihan terhadap metode tersebut disesuaikan dengan kepentingan dalam memperoleh sari yang baik. Dalam penelitian ini metode ekstraksi yang digunakan adalah metode maserasi. Istilah maserasi berasal dari bahasa latin ”macerare” yang artinya ”merendam”, merupakan proses paling tepat untuk obat yang sudah halus dimungkinkan untuk direndam dalam menstrum sampai meresap dan melunakkan susunan sel sehingga zat yang mudah larut akan melarut (Ansel, 1989).
         Maserasi merupakan proses yang paling tepat dimana obat yang sudah halus memungkinkan untuk direndam dalam menstruum sampai meresap dan melunakkan susunan sel, sehingga zat-zat yang mudah larut akan melarut (Ansel, 1989). Dalam referensi lain disebutkan bahwa maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Proses pengerjaan dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan di luar sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar. Peristiwa teresebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel (Anonim, 1986).
          Maserasi pada umumnya dilakukan dengan cara 10 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok dimasukkan ke dalam bejana, kemudian dituangi dengan 75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari diserkai, ampas diperas. Ampas ditambah cairan penyari secukupnya diaduk dan diserkai, sehingga diperoleh seluruh sari sebanyak 100 bagian. Bejana ditutup, dibiarkan ditempat sejuk, terlindung dari cahaya, selama 2 hari. kemudian endapan dipisahkan (Anonim, 1986).
        Metode pembuatan ekstrak yang umum digunakan antara lain maserasi, perkolasi, soxhletasi. Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat, dan daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna (Ansel, 1989).
         Ekstraksi bisa dilakukan dengan berbagai cara diantaraya adalah :
1. Maserasi
        Maserasi dilakukan dengan merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau pelarut lain. Sepuluh bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok dimasukkan ke dalam bejana, lalu dituangi 75 bagian cairan penyari, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya, sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 5 hari sari diserkai, ampas diperas. Ampas ditambah cairan penyari secukupnya, diaduk dan diserkai, sampai diperoleh seluruh sari sebanyak 100 bagian. Setelah itu, sari dipekatkan dengan cara diuapkan pada tekanan rendah dan suhu 500 C hingga konsentrasi yang dikehendaki (Anonim, 1986).
        Maserasi merupakan proses yang paling tepat dimana bahan obat yang sudah halus memungkinkan untuk direndam dalam cairan penyari hingga meresap dan melunakkan susunan sel, sehingga zat-zat akan melarut. Proses ini dilakukan dalam bejana bermulut lebar, ditutup rapat dan isinya dikocok berulang-ulang lalu disaring. Proses ini dilakukan pada suhu 15-20 0C selama tiga hari sampai bahan larut (Ansel, 1989).

2. Perkolasi
       Perkolasi merupakan proses penyarian serbuk simplisia dengan pelarut yang cocok dengan cara melewatkan perlahan-lahan melewati suatu kolom. Serbuk simplisia dimampatkan dalam alat ekstraksi yang disebut perkolator. Mengalirnya cairan penyari dalam perkolasi ini melalui kolom dari atas ke bawah melalui celah untuk ditarik keluar oleh gaya berat seberat cairan dalam kolom (Ansel, 1989).

3. Soxhletasi
       Soxhletasi dilakukan dengan memasukkan bahan yang akan disari ke dalam kantung ekstraksi (kertas, karton) di dalam sebuah alat ekstraksi dari gelas yang berada diantara labu suling dan suatu pendingin air balik dan dihubungkan melalui pipa. Labu tersebut berisi cairan pelarut yang mudah menguap dan bila dipanaskan akan menguap mencapai ke dalam pendingin balik melalui pipa, pelarut ini berkondensasi di dalamnya dan menetes ke serbuk yang disari. Larutan berkumpul di dalam wadah gelas dan setelah mencapai tinggi maksimum secara otomatis ditarik dalam labu, dengan demikian zat yang tersari tertimbun di dalam labu tersebut. Keuntungan cara soxhlet yaitu jumlah bahan pelarut yang digunakan untuk mengekstraksi sedikit, dan simplisia selalu baru artinya suplai bahan pelarut bebas bahan aktif berlangsung secara terus-menerus.  
       Keburukannya adalah waktu yang dibutuhkan untuk ekstraksi cukup lama (beberapa jam) sehingga kebutuhan energinya tinggi, dan bahan terekstraksi yang terakumulasi dalam labu mengalami beban panas dalam waktu yang cukup lama (Voigt, 1995).

Obat Anti Gout

1. Obat Penghambat Xantin Oksidasi (urikostatik).
    a.  Allopurinol
       Allopurinol (gambar 4) memiliki nama IUPAC 1H-Pyrazolo[3,4-d]pyrimidine dan memiliki rumus molekul C5H4N4O. dengan berat molekul 136,11g/mol.  merupakan bubuk kristal putih, tidak berbau, sedikit larut dalam air. Allopurinol berguna untuk mengobati penyakit gout karena menurunkan kadar asam urat. Pengobatan jangka panjang mengurangi frekuensi serangan, menghambat pembentukkan tofi, memobilisasi asam urat dan mengurangi besarnya tofi. Obat ini terutama berguna untuk mengobati penyakit gout kronik dengan insufisiensi ginjal dan batu urat dalam ginjal tetapi dosis awal harus dikurangi. Allopurinol berguna untuk pengobatan gout sekunder akibat penyakit folicitemia vera, metaflasia myeloid, leukemia, limfoma psoriasis, hiperuricemia akibat obat dan radiasi.
        Allopurinol bekerja dengan cara mengurangi sintesa urat atas dasar persaingan substrat dengan zat-zat purin berlandaskan enzim xanthin oksidase. Enzim yang mengubah hipoxantin menjadi xantin dan selanjutnya menjadi asam urat. Melalui mekanisme umpan balik allopurinol menghambat sintesa purin yang merupakan prekursor xanthin. Allopurinol sendiri mengalami biotransformasi oleh enzim xanthin oksidase menjadi aloxanthin yang masa paruhnya lebih panjang daripada allopurinol.
        Dosis untuk gout sekunder 100-200 mg/hari, penyakit gout ringan 200-400 mg/hari, 400-600 mg untuk penyakit yang lebih berat. Allopurinol mempunyai waktu paruh 1-3 jam. Allopurinol dalam eter mengalami biotransformasi oleh enzim xantin oksidase menjadi alloxantin (oxipurinol) yang masa paruhnya lebih panjang daripada allopurinol. Oleh karena itu allopurinol yang waktu paruhnya pendek dapat diberikan satu kali sehari
       Efek samping penggunaan allopurinol yaitu kemerahan pada kulit, demam, menggigil, leukositosis, dan eusinofilia. Allopurinol telah dipasarkan dengan berbagai nama dagang antara lain; Allonat®, urokuad®, dan zyloric® yang harganya mahal, di samping obat generik yang harganya relatif lebih murah.

2. Obat-obatan urikosurik
     a. Probenesid
        Probenesid merupakan obat urikosurik yang berefek untuk mencegah dan mengurangi kerusakan sendi serta pembentukan tofi pada penyakit gout, tidak efektif untuk mengatasi serangan akut. Probenesid berguna untuk pengobatan hiperuricemia sekunder. Efek samping probenesid yang paling sering dijumpai adalah gangguan saluran cerna, nyeri kepala dan reaksi alergi.
        Dosis probenesid 2 kali 250 mg/hari selama seminggu diikuti dengan 2 kali 500 mg/hari, bila perlu dinaikkan sampai maksimal 2 gram/hari.
      b. Sulfinpirazon
          Sulfinpirazon mencegah dan mengurangi kelainan sendi dan tofi pada penyakit gout kronik berdasarkan hambatan reabsorpsi tubular asam urat. Sulfinpirazon kurang efektif menurunkan kadar asam urat dibandingkan dengan allopurinol dan tidak berguna mengatasi serangan gout akut tetapi dapat meningkatkan frekuensi serangan pada awal terapi. Efek samping yang mungkin timbul adalah gangguan saluran cerna dan alergi.
           Dosis sulfinpirazon 2 kali 100-200 mg/hari, ditingkatkan sampai 400-800 mg/hari, kemudian dikurangi sampai dosis efektif minimal (20).

Asam Urat

Sifat fisika dan kimia asam urat
      Asam urat (gambar 1) memiliki nama IUPAC 7,9-dihidro-1H-purin-2,6,8(3H)-trion atau dengan nama lain 2,6,8-trioksipurina. Rumus molekul asam urat adalah C5H4N4O3 dengan berat molekul 168,11g/mol. Asam urat termasuk asam lemah berupa kristal putih, sukar larut dalam air dan mengalami dekomposisi dengan pemanasan.
      Dasar kelarutan produk dari natrium urat pada suhu 37oC dan tambahan 0,4 mg/dl untuk batas urat dalam plasma, kelarutan dari natrium urat dalam plasma adalah 6,8 mg/dl. Nilai di atas, dapat berpotensi sebagai endapan  dari kristal urat yang ada. Kelarutan dari natrium urat dalam plasma pada suhu 30oC hanya 4 mg/dl, yang mungkin menjelaskan  mengapa bentuk kristal lebih baik di dalam suhu tubuh yang rendah.

Metabolisme asam urat
      Dalam tubuh, senyawa-senyawa purin mengalami metabolisme untuk diubah menjadi asam urat. Nukleotida purin yang utama, yaitu Adhenosin Monophospat (AMP) dan Guanosin Monophosphat (GMP). Fosfomonoesterase mengubah AMP dan GMP menjadi nukleosidanya. Adhenosin mengalami deaminasi menjadi inosin oleh enzim adenosine deaminase. Fosforilasi ikatan N-glukosida inosin dan guanosin, dikatalisasi oleh enzim nukleosida purin fosforilase, akan melepas senyawa ribose 1-fosfat dan basa purin. Hipoxantin dan guanine selanjutnya membentuk xantin dalam reaksi yang dikatalisasi masing-masing oleh enzim xantin oksidase dan guanase. Kemudian xantin teroksidasi menjadi asam urat dalam reaksi kedua yang dikatalisasi oleh enzim xantin oksidase (gambar 3). Dengan demikian xantine oksidase merupakan lokasi yang esensial untuk intervensi farmakologis pada penderita hiperuresemia dan penyakit gout.
       Ekskresi keseluruhan asam urat pada manusia yang normal berkisar rata-rata 600-800 mg/ 24 jam. Dua pertiga asam urat yang terbentuk dieleminasi melalui ginjal, sedangkan sepertiganya melalui saluran pencernaan.
 
Patofisiologi asam urat
        Pada manusia, asam urat merupakan produk akhir dari degradasi senyawa purin. Zat tersebut tidak memiliki kegunaan fisiologis sehingga dapat dianggap sebagai bahan buangan. Karena ketidak beradaan enzim urikase pada manusia, maka terdapat kemungkinan adanya timbunan asam urat yang apabila melewati batas tertentu akan menimbulkan gangguan patologis.
        Kadar asam urat normal dalam darah manusia pada pria adalah 3,5 mg/dl sebelum pubertas dan 5,2 mg/dl setelah pubertas. Sedangkan pada wanita adalah 4 mg/dl usia pramenopause dan 4,7 mg/dl usia pascamenopaus. Peningkatan kadar asam urat darah melebihi normal dapat terjadi karena peningkatan produksi atau penurunan eksresi asam urat. Keadaan biokimia ini disebut hiperurisemia yaitu kadar asam urat melebihi 7,0 mg/dl pada pria dan 6,0 mg/dl pada wanita.              
       Satu diantara penyebab meningkatnya produksi asam urat adalah meningkatnya asupan makanan yang mengandung purin  misalnya ; hati, ginjal, makanan kaleng, kacang-kacangan, bayam, gandum, asparagus, kembang kol, jamur, dan minuman beralkohol.
       Hiperuricemia dapat bersifat asimptomatik atau menimbulkan keadaan patologis seperti arthritis gout akut dan gout kronik. Keadaan ini timbul karena penimbunan kristal monoatrium urat pada jaringan lunak dan persendian akibat keadaan lewat jenuh. Timbunan kristal ini membentuk tofi yang dapat menyebabkan reaksi peradangan.
       Hiperuricemia dan gout dikelompokkan menjadi dua yaitu primer dan sekunder. Gout primer disebabkan oleh kelainan metabolik. Dan gout sekunder disebabkan oleh keadaan hiperuricemia akibat penyakit, penurunan fungsi ginjal, peningkatan degradasi asam nukleat, peningkatan produksi purin, kosumsi alkohol, atau karena obat-obatan tertentu.

Minggu, 14 Februari 2010

Pilulae

     Pil adlah suatu sediaan yang berbentuk bulat seperti kelereng mengandung satu atau lebih bahan obat. Berat pil berkisar antara 100 mg sampai 100 mg. Pil kecil yang beratnya kira-kira 30 mg disbut granula dan pil besar yang beratnya lebih dari 500 mg disebut boli. Boli biasanya digunakan untuk pengobatan hewan seperti sapi, kuda dan lain-lain.
    Bila tidak disebut lain granula mengandung bahan obat berhasiat 1 mg. Untuk membuat pil diperlukan zat tambahan seperti zat pengisi untuk memperbesar volume,zat pengikat dan zat pembasah dan bila perlu ditambah zat penyalut. Sebagai zat pengisi digunakan liquaritiae radix, saccharum lactis, dalam hal kahsus  untuk zat oksidator digunakan bolus alba, campuran Succus Liquiritiae dan Liquiritiae Radix sam banyak (pulvis pro pilulae) dan bahan lain yang cocok. 
      Sebagai zat pengikat digunakan Succus Liquiritiae, P.G.A., Trgacanthae, pulvis gumosus ( ampuran P.G.A, Trgakan dan sacharum album) oleum cacao, adeps lanae, vaselinumdan bahan lain yang cocok.
Download 

Selasa, 09 Februari 2010

VIRUS

       Salah satu penjahat paling terkenal dan paling penting adalah virus. Organisme ini, yang keberadaannya baru kita sadari setelah ditemukannya mikroskop elektron, adalah suatu struktur yang terlalu sederhana dan terlalu kecil untuk bisa dianggap sebagai satu sel. Virus, yang ukurannya bervariasi antara 0,1 sampai 0,280 mikron, karenanya tidak digolongkan sebagai makhluk hidup.
Download Coy

Protein Sel Tunggal

       Protein sel tunggal adalah bahan makanan berkadar protein tinggi yang berasal dari mikroba. Istilah protein sel tunggal (PST) digunakan untuk membedakan bahwa PST berasal dari organisme bersel tunggal atau banyak. Pemanfaatan mikroorganisme sehingga mengahasilkan makanan berprotein tinggi secara komersial dimulai sejak Perang Dunia I di Jerman dengan memproduksi khamir torula. Operasi utama dalam produksi protein sel tunggal adalah fermentasi yang bertujuan mengoptimalkan konversi substrat menjadi massa microbial.
       Pemanfaatan mikroorganisme sehingga menghasilkan makanan berprotein tinggi secara komersial dimulai sejak Perang Dunia I di Jerman dengan memproduksi khamir torula. Operasi utama dalam produksi protein sel tunggal adalah fermentasi yang bertujuan mengoptimalkan konversi substrat menjadi massa mikrobial.
        Mikroorganisme yang dibiakkan untuk protein sel tunggal dan digunakan sebagai sumber protein untuk hewan atau pangan harus mendapat perhatian secara khusus. Mikroorganisme yang cocok antara lain memiliki sifat tidak menyebabkan penyakit terhadap tanaman, hewan, dan manusia. Selain itu, nilai gizinya baik, dapat digunakan sebagai bahan pangan atau pakan, tidak mengandung bahan beracun serta biaya produk yang dibutuhkan rendah. Mikroorganisme yang umum digunakan sebagai protein sel tunggal, antara lain alga Chlorella, Spirulina, dan Scenedesmus; dari khamir Candida utylis; dari kapang berfilamen Fusarium gramineaum; maupun dari bakteri.
        Quorn dibuat dengan cara menanam kapang ditempat peragian yang berukuran besar. Setelah membuang air dari tempat peragian, makanan berharga yang tertinggal dicetak menjadi balok-balok yang mudah dibawa.

 
Design Edit by Ferdi DL |2011 |